Aqidah

Petunjuk Menguatkan Iman

Tidak seorang pun dapat menjamin dirinya akan tetap terus berada dalam keimanan sehingga waktunya ia meninggal dunia dalam keadaan khusnul khatimah. Untuk itu kita perlu merawat bahkan senantiasa berusaha menguatkan keimanan kita. 
Kekuatan keteguhan iman (Tsabat) adalah sangat dituntut terhadap setiap muslim. Tema ini penting kerana beberapa alasan yang perlu mendapat perhatian serius dikalangan umat islam dekad ini iaitu ;

Pertama
, pada zaman ini kaum muslimin hidup di tengah berbagai macam fitnah, syahwat dan syubhat dan hal-hal itu sangat berpotensi menggugat iman. Maka kekuatan iman merupakan keperluan mutlak, bahkan lebih diperlukan dibandingkan pada masa generasi sahabat, kerana kerosakan manusia di segala bidang telah menjadi fenomena umum.

Kedua
, banyak terjadi pemurtadan dan konversi (perpindahan) agama. Jika pada awal kemerdekaan jumlah umat Islam di Indonesia mencapai 90 % maka saat ini jumlah itu telah berkurang hampir 5%. Ini tentu menimbulkan kekhawatiran mendalam. Untuk mengatasinya diperlukan jalan keluar, sehingga setiap muslim tetap memiliki kekuatan iman.

Ketiga
, pembahasan masalah tsabat berkait erat dengan masalah hati. Padahal Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Dinamakan hati karena ia (selalu) berbolak-balik. Perumpamaan hati itu bagaikan bulu yang ada di pucuk pohon yang diombang-ambingkan oleh angin.” (HR. Ahmad, Shahihul Jami’ no. 2361).

Maka, mengukuhkan hati yang senantiasa berbolak-balik itu dibutuhkan usaha keras, agar hati tetap teguh dalam keimanan.
Dan sungguh Allah Maha Rahman dan Rahim kepada hambaNya. Melalui Al Qur’an dan Sunnah RasulNya Ia memberikan petunjuk bagaimana cara mencapai tsabat. 

Berikut ini penjelasan 15 petunjuk berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah untuk memelihara kekuatan dan keteguhan iman kita.



Akrab dengan Al Qur’an

Al Qur’an merupakan petunjuk utama mencapai tsabat. Al Qur’an adalah tali penghubung yang amat kokoh antara hamba dengan Rabbnya. Siapa akrab dan berpegang teguh dengan Al Qur’an niscaya Allah memeliharanya; siapa mengikuti Al Qur’an, niscaya Allah menyelamatkannya; dan siapa yang mendakwahkan Al Qur’an, niscaya Allah menunjukinya ke jalan yang lurus. Dalam hal ini Allah berfirman:

“Orang-orang kafir berkata, mengapa Al Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja? Demikianlah supaya Kami teguhkan hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar).” (Al Furqan: 32-33)

Beberapa alasan mengapa Al Qur’an dijadikan sebagai sumber utama mencapai tsabat adalah: 

Pertama
, Al Qur’an menanamkan keimanan dan mensucikan jiwa seseorang, karena melalui Al Qur’an, hubungan kepada Allah menjadi sangat dekat. 

Kedua
, ayat-ayat Al Qur’an diturunkan sebagai penentram hati, menjadi penyejuk dan penyelamat hati orang beriman sekaligus benteng dari hempasan berbagai badai fitnah. 

Ketiga
, Al Qur’an menunjukkan konsepsi serta nilai-nilai yang dijamin kebenarannya. Karena itu, seorang mukmin akan menjadikan Al Qur’an sebagai ukuran kebenaran. 

Keempat
, Al Qur’an menjawab berbagai tuduhan orang-orang kafir, munafik dan musuh Islam lainnya. Seperti ketika orang-orang musyrik berkata, Muhammad ditinggalkan Rabbnya, maka turunlah ayat:
“Rabbmu tidaklah meninggalkan kamu dan tidak (pula) benci kepadamu.” (Ad Dhuha: 3) / (Syarh Nawawi, 12/156). 

Orang yang akrab dengan Al Qur’an akan menyandarkan semua perihalnya kepada Al Qur’an dan tidak kepada perkataan manusia. Maka, betapa agung sekiranya penuntut ilmu dalam segala disiplinnya menjadikan Al Qur’an berikut tafsirnya sebagai obyek utama kegiatannya menuntut ilmu.Iltizam (komitmen) terhadap syari’at Allah

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akherat. Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim. Dan Allah berbuat apa saja yang Ia kehendaki.” (Ibrahim: 27)

“Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih meneguhkan (hati mereka di atas kebenaran).” (An Nisa’: 66)

Karena itu, menjelaskan surat Ibrahim di atas Qatadah berkata: “Adapun dalam kehidupan di dunia, Allah meneguhkan orang-orang beriman dengan kebaikan dan amal shalih sedang yang dimaksud dengan kehidupan akherat adalah alam kubur.” (Ibnu Katsir: IV/421)

Maka jelas sekali, sangat mustahil orang-orang yang malas berbuat kebaikan dan amal shaleh diharapkan memiliki keteguhan iman. Karena itu, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam senantiasa melakukan amal shaleh secara kontinyu, sekalipun amalan itu sedikit, demikian pula halnya dengan para sahabat. 

Komitmen untuk senantiasa menjalankan syariat Islam akan membentuk kepribadian yang tangguh, dan iman pun menjadi teguh.


Mempelajari Kisah Para Nabi

Mempelajari kisah dan sejarah itu penting. Apatah lagi sejarah para Nabi. Ia bahkan bisa menguatkan iman seseorang. Secara khusus Allah menyinggung masalah ini dalam firman-Nya:
“Dan Kami ceritakan kepadamu kisah-kisah para rasul agar dengannya Kami teguhkan hatimu dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran, pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Hud: 120)

Sebagai contoh, marilah kita renungkan kisah Ibrahim alaihis salam yang diberitakan dalam Al Qur’an:

“Mereka berkata, bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak. Kami berfirman, hai api menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim. Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim maka Kami jadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.” (Al Anbiya’: 68-70)

Bukankah hati kita akan bergetar saat merenungi kronologi pembakaran nabi Ibrahim sehingga ia selamat atas izin Allah? Dan bukankah dengan demikian akan membuahkan keteguhan iman kita? Lalu, kisah nabi Musa alaihis salam yang tegar menghadapi kezhaliman Fir’aun demi menegakkan agama Allah. 

Bukankah kisah itu mengingatkan kekerdilan jiwa kita dibanding dengan nabi Musa?
Tak sedikit umat Islam sudah merasa tak punya jalan karena kondisi ekonomi yang kurang menguntungkan misalnya, sehingga mau saja saat diajak kolusi dan berbagai praktek syubhat lain oleh koleganya. Lalu mereka mencari-cari alasan mengabsahkan tindakannya yang keliru. 
Dan bukankah karena takut gertakan penguasa yang tiranik lalu banyak di antara umat Islam (termasuk ulamanya) yang menjadi tuli, buta dan bisu sehingga tidak melakukan amar ma’ruf nahi mungkar? Bahkan sebaliknya malah bergabung dan bersekongkol serta melegitimasi status quo (menganggap yang ada sudah baik dan tak perlu diubah).
Bukankah dengan mempelajari kisah-kisah Nabi yang penuh dengan perjuangan menegakkan dan meneguhkan iman itu kita menjadi malu kepada diri sendiri dan kepada Allah? Kita mengharap Surga tetapi banyak hal dari perilaku kita yang menjauhinya. Mudah-mudahan Allah menunjuki kita ke jalan yang diridhaiNya.


Berdo’a

Di antara sifat hamba-hamba Allah yang beriman adalah mereka memohon kepada Allah agar diberi keteguhan iman, seperti do’a yang tertulis dalam firmanNya:
“Ya Rabb, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau beri petunjuk kepada kami.” (Ali Imran: 8)

“Ya Rabb kami, berilah kesabaran atas diri kami dan teguhkanlah pendirian kami serta tolonglah kami dari orang-orang kafir.” (Al Baqarah: 250)

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
“Sesungguhnya seluruh hati Bani Adam terdapat di antara dua jari dari jemari Ar Rahman (Allah), bagaikan satu hati yang dapat Dia palingkan ke mana saja Dia kehendaki.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Agar hati tetap teguh maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam banyak memanjatkan do’a berikut ini terutama pada waktu duduk takhiyat akhir dalam shalat.
“Wahai (Allah) yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada din-Mu.” (HR. Turmudzi)

Banyak lagi do’a-do’a lain tuntunan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam agar kita mendapat keteguhan iman. Mudah-mudahan kita senantiasa tergerak hati untuk berdo’a utamanya agar iman kita diteguhkan saat menghadapi berbagai ujian kehidupan.


Dzikir kepada Allah

Dzikir kepada Allah merupakan amalan yang paling ampuh untuk mencapai tsabat. Karena pentingnya amalan dzikir maka Allah memadukan antara dzikir dan jihad, sebagaimana tersebut dalam firmanNya:

“Hai orang-orang yang beriman, bila kamu memerangi pasukan (musuh) maka berteguh-hatilah kamu dan dzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya.” (Al Anfal: 45)

Dalam ayat tersebut, Allah menjadikan dzikrullah sebagai amalan yang amat baik untuk mencapai tsabat dalam jihad. Ingatlah Yusuf Alaihis Salam! 
Dengan apa ia memohon bantuan untuk mencapai tsabat ketika menghadapi fitnah rayuan seorang wanita cantik dan berkedudukan tinggi? Bukankah dia berlindung dengan kalimat ma’adzallah (aku berlindung kepada Allah), lantas gejolak syahwatnya reda?
Demikianlah pengaruh dzikrullah dalam memberikan keteguhan iman kepada orang-orang yang beriman.


Menempuh Jalan Lurus

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia dan jangan mengikuti jalan-jalan (lain) sehingga menceraiberaikan kamu dari jalanNya.” (Al An’am: 153)

Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mensinyalir bahwa umatnya bakal terpecah-belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk Neraka kecuali hanya satu golongan yang selamat (HR. Ahmad, hasan)

Dari sini kita mengetahui, tidak setiap orang yang mengaku muslim mesti berada di jalan yang benar. Rentang waktu 14 abad dari datangnya Islam cukup banyak membuat terkotak-kotaknya pemahaman keagamaan. 
Lalu, jalan manakah yang selamat dan benar itu? 

Dan, pemahaman siapakah yang mesti kita ikuti dalam praktek keberaga-maan kita? Berdasarkan banyak keterangan ayat dan hadits, jalan yang benar dan selamat itu adalah jalan Allah dan RasulNya. 

Sedangkan pemahaman agama yang autentik kebenarannya adalah pemahaman berdasarkan keterangan Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada para sahabatnya. (HR. Turmudzi, hasan).

Itulah yang mesti kita ikuti, tidak penafsiran-penafsiran agama berdasarkan akal manusia yang tingkat kedalaman dan kecerdasannya majemuk dan terbatas. Tradisi pemahaman itu selanjutnya dirawat oleh para tabi’in dan para imam shalihin. 

Paham keagamaan inilah yang dalam terminologi (istilah) Islam selanjutnya dikenal dengan paham Ahlus Sunnah wal Jamaah. Atau sebagian menyebutnya dengan pemahaman para salafus shalih.

Orang yang telah mengikuti paham Ahlus Sunnah wal Jamaah akan tegar dalam menghadapi berbagai keanekaragaman paham, sebab mereka telah yakin akan kebenaran yang diikutinya. Berbeda dengan orang yang berada di luar Ahlus Sunnah wal Jamaah, mereka akan senantiasa bingung dan ragu.

Berpindah dari suatu lingkungan sesat ke lingkungan bid’ah, dari filsafat ke ilmu kalam, dari mu’tazilah ke ahli tahrif, dari ahli ta’wil ke murji’ah, dari thariqat yang satu ke thariqat yang lain dan seterusnya. Di sinilah pentingnya kita berpegang teguh dengan manhaj (jalan) yang benar sehingga iman kita akan tetap kuat dalam situasi apapun.


Menjalani Tarbiyah

Tarbiyah (pendidikan) yang semestinya dilalui oleh setiap muslim cukup banyak. Paling tidak ada empat macam :

Tarbiyah Imaniyah
, yaitu pendidikan untuk menghidupkan hati agar memiliki rasa khauf (takut), raja’ (pengharapan) dan mahabbah (kecintaan) kepada Allah serta untuk menghilangkan kekeringan hati yang disebabkan oleh jauhnya dari Al Qur’an dan Sunnah.

Tarbiyah Ilmiyah, yaitu pendidikan keilmuan berdasarkan dalil yang benar dan menghindari taqlid buta yang tercela.

Tarbiyah Wa’iyah, yaitu pendidikan untuk mempelajari siasat orang-orang jahat, langkah dan strategi musuh Islam serta fakta dari berbagai peristiwa yang terjadi berdasarkan ilmu dan pemahaman yang benar.

Tarbiyah Mutadarrijah, yaitu pendidikan bertahap, yang membimbing seorang muslim setingkat demi setingkat menuju kesempurnaannya, dengan program dan perencanaan yang matang. Bukan tarbiyah yang dilakukan dengan terburu-buru dan asal jalan.

Itulah beberapa tarbiyah yang diberikan Rasul kepada para sahabatnya. Berbagai tarbiyah itu menjadikan para sahabat memiliki iman baja, bahkan membentuk mereka menjadi generasi terbaik sepanjang masa.


Meyakini Jalan yang Ditempuh

Tak dipungkiri bahwa seorang muslim yang bertambah keyakinannya terhadap jalan yang ditempuh yaitu Ahlus Sunnah wal Jamaah maka bertambah pula tsabat (keteguhan iman) nya. Adapun di antara usaha yang dapat kita lakukan untuk mencapai keyakinan kokoh terhadap jalan hidup yang kita tempuh adalah:

Pertama, kita harus yakin bahwa jalan lurus yang kita tempuh itu adalah jalan para nabi, shiddiqien, ulama, syuhada dan orang-orang shalih.

Kedua
, kita harus merasa sebagai orang-orang terpilih karena kebenaran yang kita pegang, sebagaimana firman Allah: “Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hambaNya yang Ia pilih.” (QS. 27: 59)

Bagaimana perasaan kita seandainya Allah menciptakan kita sebagai benda mati, binatang, orang kafir, penyeru bid’ah, orang fasik, orang Islam yang tidak mau berdakwah atau da’i yang sesat? Mudah-mudahan kita berada dalam keyakinan yang benar yakni sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah yang sesungguhnya.


Berdakwah

Jika tidak digerakkan, jiwa seseorang tentu akan rusak. Untuk menggerakkan jiwa maka perlu dicarikan medan yang tepat. Di antara medan pergerakan yang paling agung adalah berdakwah. Dan berdakwah merupakan tugas para rasul untuk membebaskan manusia dari adzab Allah.
Maka tidak benar jika dikatakan, fulan itu tidak ada perubahan. Jiwa manusia, bila tidak disibukkan oleh ketaatan maka dapat dipastikan akan disibukkan oleh kemaksiatan. Sebab, iman itu bisa bertambah dan berkurang.
Jika seorang da’i menghadapi berbagai tantangan dari ahlul bathil dalam perjalanan dakwahnya, tetapi ia tetap terus berdakwah maka Allah akan semakin menambah dan mengokohkan keimanannya.



Dekat dengan Ulama

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Di antara manusia ada orang-orang yang menjadi kunci kebaikan dan penutup kejahatan.” (HR. Ibnu Majah, no. 237, hasan)

Senantiasa bergaul dengan ulama akan semakin menguatkan iman seseorang. Tercatat dalam sejarah bahwa berbagai fitnah telah terjadi dan menimpa kaum muslimin, lalu Allah meneguhkan iman kaum muslimin melalui ulama. Di antaranya seperti diutarakan Ali bin Al Madini Rahimahullah: “Di hari riddah (pemurtadan) Allah telah memuliakan din ini dengan Abu Bakar dan di hari mihnah (ujian) dengan Imam Ahmad.” Bila mengalami kegundahan dan problem yang dahsyat Ibnul Qayyim mendatangi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah untuk mendengarkan berbagai nasehatnya. Sertamerta kegundahannya pun hilang berganti dengan kelapangan dan keteguhan iman ( Al Wabilush Shaib, hal. 97).



Meyakini Pertolongan Allah

Mungkin pernah terjadi, seseorang tertimpa musibah dan meminta pertolongan Allah, tetapi pertolongan yang ditunggu-tunggu itu tidak kunjung datang, bahkan yang dialaminya hanya bencana dan ujian. Dalam keadaan seperti ini manusia banyak membutuhkan tsabat agar tidak berputus asa. Allah berfirman:
“Dan berapa banyak nabi yang berperang yang diikuti oleh sejumlah besar pengikutnya yang bertaqwa, mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak lesu dan tidak pula menyerah (kepada musuh). Dan Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada do’a mereka selain ucapan, Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami. Tetapkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akherat.” (Ali Imran: 146-148)

Mengetahui Hakekat Kebatilan

Allah berfirman:
“Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir yang bergerak dalam negeri .” (Ali Imran: 196)

“Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al Qur’an (supaya jelas jalan orang-orang shaleh) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berbuat jahat (musuh-musuh Islam).” (Al An’am: 55)

“Dan Katakanlah, yang benar telah datang dan yang batil telah sirna, sesungguhnya yang batil itu pastilah lenyap.” (Al Isra’: 81)

Berbagai keterangan ayat di atas sungguh menentramkan hati setiap orang beriman. Mengetahui bahwa kebatilan akan sirna dan kebenaran akan menang akan mengukuhkan seseorang untuk tetap teguh berada dalam keimanannya.


Memiliki Akhlak Pendukung Tsabat

Akhlak pendukung tsabat yang utama adalah sabar. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: “Tidak ada suatu pemberian yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Tanpa kesabaran iman yang kita miliki akan mudah terombang-ambingkan oleh berbagai musibah dan ujian. Karena itu, sabar termasuk senjata utama mencapai tsabat.


Nasehat Orang Shalih

Nasehat para shalihin sungguh amat penting artinya bagi keteguhan iman. Karena itu, dalam segala tindakan yang akan kita lakukan hendaklah kita sering-sering meminta nasehat mereka. Kita perlu meminta nasehat orang-orang shalih saat mengalami berbagai ujian, saat diberi jabatan, saat mendapat rezki yang banyak dan lain-lain.

Bahkan seorang sekaliber Imam Ahmad pun, beliau masih perlu mendapat nasehat saat menghadapi ujian berat oleh intimidasi penguasa yang tiranik. Bagaimana pula halnya dengan kita?



Merenungi Nikmatnya Surga

Surga adalah tempat yang penuh dengan kenikmatan, kegembiraan dan suka-cita. Ke sanalah tujuan pengembaraan kaum muslimin. Orang yang meyakini adanya pahala dan Surga niscaya akan mudah menghadapi berbagai kesulitan. Mudah pula baginya untuk tetap tsabat dalam keteguhan dan kekuatan imannya.
Dalam meneguhkan iman para sahabat, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sering mengingatkan mereka dengan kenikmatan Surga. Ketika melewati Yasir, istri dan anaknya Ammar yang sedang disiksa oleh kaum musyrikin beliau mengatakan: “Bersabarlah wahai keluarga Yasir, tempat kalian nanti adalah Surga”. (HR. Al Hakim/III/383, hasan shahih)
Mudah-mudahan kita bisa merawat dan terus-menerus meneguhkan keimanan kita sehingga Allah menjadikan kita khusnul khatimah. Amin​
Sumber: Sunnah

Aqidah

BILA IMAN AKAN TERBATAL?

By Ustaz Ahmad Adnan Fadzil


Assalamualaikum ustaz, semasa di zaman universiti dulu saya ada belajar subjek aqidah. saya pelajar aliran sains, tapi di universiti saya ada masukkan jgk subjek2 agama. Alhamdulillah dapat la belajar sedikit sebanyak. dalam satu sesi tu, kami ada belajar tentang perkara2 yang membatalkan iman. Antaranya ialah seperti menghalalkan yang haram, mengharamkan yg halal dan juga lain2. Bila saya terfikir pasal benda ni saya jadi risau pulak ustaz. Sebab kadang2 tu kan macam bila kita ada buat dosa, pastu dalam hati kita macam tak kisah dengan perbuatan dosa kita tu…seolah-olah macam kita menghalalkan yang haram……ataupun kadang2 bila kita nampak perbuatan dosa depan mata kita, tapi kita macam tak kisah akan perbuatan tersebut….saya takut semua ini termasuk dalam kategori menghalalkan yg haram yang boleh membawa kepada batalnya iman….nauzubillah…. mohon penjelasan daripada ustaz. Syukran ustaz. Moga Allah merahmati ustaz.

Jawapan;

Iman yang sempurna terkandung di dalamnya 3 unsur;
1. Keyakinan hati
2. Pengakuan lidah
3. Amalan anggota
 
Unsur pertama dan kedua adalah dasar iman di mana jika tiada seorang itu adalah kafir. Jika seorang muslim hilang keduanya ia akan jadi murtad. Adapun unsur ketiga (amalan) ia adalah penyempurna kepada iman. Jika tiada, tidaklah menjadi kafir atau murtad, akan tetapi imannya tidak sempurna yakni ia masih dianggap mukmin, namun mukmin ashi (mukmin yang melakukan maksiat). Seorang mukmin yang sempurna ialah mukmin muthi’ (mukmin yang taat).
 
Seorang muslim/mukmin akan jadi kafir/murtad jika hilang keyakinan hatinya terhadap Allah atau Rasul atau Agama (yakni mana-mana ajaran Islam yang pasti, yang tidak diragui lagi kedudukannya sebagai ajaran Islam). Jika ia mengisytiharkan ketidakyakinannya kepada orang lain, ia kafir/murtad di sisi Allah dan di sisi manusia. Jika ia tidak mengisytiharkannya, ia kafir/murtad di sisi Allah, adapun di sisi manusia ia masih Islam kerana keputusan di sisi manusia dihukum berdasarkan apa yang zahir/nampak.
 
Merujuk kepada soalan saudara, selagi seorang itu tetap meyakini perintah Allah dengan hatinya dan tiada tanda/bukti secara zahir ia menafikan perintah itu, ia masih mukmin walaupun ia tidak melaksanakan perintah itu. Namun jika ia meninggalkan perintah itu bersama hati yang engkar (tidak percaya lagi dengan perintah itu) atau ia bercakap mengkritik perintah itu (dalam keadaan ia tahu itu perintah Allah yang pasti, tiada keraguan), ketika itu ia jadi kafir/murtad.
 
Wallahu a’lam.

Aqidah

HUKUM BERAMAL DENGAN PETUA DAN PANTANG LARANG MELAYU

By Ustaz Ahmad Adnan Fadzil

Assalamualaikum Ustaz, Saya ingin bertanya, apakah hukum mempercayai petua-petua, pesan dan pantang larang orang dahulu kala yang disebut ‘kenan’. Sebagai contoh ada pesan orang tua mengatakan jangan menyapu rumah ketika waktu malam kerana ditakuti rezeki akan “disapu keluar”. 

Apakah kesan mempercayai kesan seperti ini kepada akidah kita dan apakah dalil yang ada untuk membenarkan atau menyangkal perkara ini?

Soalan tambahan saya, bagaimanakah caranya untuk kita mengenal pasti amalan orang terdahulu dalam budaya Melayu yang boleh diikuti serta tidak menjejaskan akidah dan amalan yang mana harus dielakkan?

Jawapan;

Semua jenis petua, pesan, pantang-larang atau seumpamanya harus diamalkan jika ia tidak bercanggah dengan ketetapan al-Quran dan as-Sunnah, antaranya;

1. Tidak membawa kepada kepercayaan khurafat dan karut-marut iaitu mempercayai perkara ghaib di luar dari skop yang diberitahu oleh Allah di dalam al-Quran atau melalui RasulNya di dalam as-Sunnah. Firman Allah (bermaksud): “Katakanlah; Tiada sesiapapun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib melainkan Allah”. (an-Naml: 65) 

2. Tidak memalingkan seseorang dari keyakinan bahawa segala yang berlaku -sama ada baik atau buruk- adalah dari ketetapan Allah (Qadarullah). Begitu juga, keyakinan hanya Allah yang mendatangkan mudarat dan manfaat kepada manusia. Firman Allah (bermaksud): “Katakanlah; Aku tidak berkuasa mendatangkan manfaat bagi diriku dan tidak dapat menolak mudarat kecuali apa yang dikehendaki Allah. Dan kalau aku mengetahui perkara-perkara yang ghaib tentulah aku akan mengumpulkan dengan banyaknya benda-benda yang mendatangkan faedah dan tentulah aku tidak ditimpa kesusahan. Tidaklah aku melainkan hanya pemberi peringatan dan penyampai khabar gembira bagi orang-orang beriman”. (al-A’raf: 188) 

3. Tidak membawa kepada pengamalan yang bercanggah dengan al-Quran dan as-Sunnah atau terpaksa meninggalkan amalan yang disuruh al-Quran dan as-Sunnah kerana ingin beramal dengan petua atau pantang larang.

4. Tidak membawa kepada mengubah hukum Allah terhadap sesuatu iaitu sama ada mengharamkan apa yang halal atau menghalalkan apa yang haram. Ini kerana hak untuk menentukan halal atau haramnya sesuatu bukan milik manusia, akan tetapi milik Allah.

5. Tidak berupa kepercayaan kepada sial sesuatu kerana kepercayaan sebegitu dilarang oleh sabda Nabi; “Tidak ada sial sesuatu (di dalam Islam)” (HR Imam al-Bukhari dari Anas). Nabi juga bersabda; “Sesiapa yang sial sesuatu (yakni kepercayaannya terhadap sial sesuatu) menghalangnya dari menyempurnakan hajat (atau urusannya), maka sesungguhnya ia telah mensyirikkan Allah” (HR Imam Ahmad, at-Thabrani dan Ibnu Sunni dari Abdullah Ibnu ‘Amru r.a./ al-Jami’ as-Saghir, no. 8701)

6. Tidak berupa tilikan atau tenungan kerana ia dilarang oleh Nabi dalam sabdanya: “Sesiapa pergi kepada seorang kahin (tukang tilik/tenung), lalu ia mempercayai apa yang ia khabarkan, maka sesungguhnya dia telah kufur terhadapy apa yang diturunkan kepada Muhammad (yakni agama Islam)”. (HR Imam Ahmad dan al-Hakim dari Abu Hurairah r.a./al-Jami’ as-Saghir, no. 8285)

Oleh demikian, supaya petua dan pantang larang yang hendak diamalkan tidak bercanggah dengan agama ia mesti berlandaskan dalil-dalil yang diakui Syariat iaitu sama ada diceduk dari al-Quran atau as-Sunnah atau berdasarkan kajian atau pengalaman. Petua yang tidak berdiri di atas dasar yang tidak difahami (atau dikaitkan dengan kepercayaan tertentu tanpa dalil Syarak; yakni al-Quran dan as-Sunnah) hendaklah dielakkan dari beramal dengannya. Sebagai contoh, pantang larang bagi ibu-ibu selepas bersalin selama 44 hari yang membabitkan perkara berikut;

1. Tidak boleh bersama suami (berjimak) sepanjang tempoh itu
2. Tidak boleh makan makanan sesuka hati (ada makanan yang perlu berpantang)
3. Tidak boleh turun ke tanah kerana dikhuatiri diganggu oleh jembalang tanah.

Perkara pertama ada kaitan dengan dalil Syariat di mana tempoh paling lama nifas bagi wanita bersalin ialah 40 atau 60 hari mengikut perbezaan pandangan ulamak dan dalam tempoh tersebut sememangnya tidak harus berlaku jimak, oleh demikian pantang larang tersebut harus diamalkan. Perkara kedua (berpantang makanan), ia kembali kepada pengalaman dan ia juga harus diamalkan jika kita yakin dengan pengalaman orang-orang dulu. Perkara ketiga (tidak boleh turun ke tanah), ia berkait dengan kepercayaan tentang makhluk ghaib, tidak harus diamalkan kerana ia bersifat khurafat kerana tiada dalil al-Quran maupun as-Sunnah mengesahkannya.

Begitu juga pantang larang yang dikemukakan dalam soalan di atas (jangan menyapu sampah di malam hari kerana dikhuatiri rezki akan hilang); pantang larang ini dilihat dari segi dalil al-Quran atau as-Sunnah, tiada ayat al-Quran ataupun hadis mengesahkannya. Melihat kepada kajian dan pengalaman juga tidak kuat sandarannya. Oleh demikian, tidak usahlah pantang larang sebegitu dipercayai kerana dibimbangi kita akan terbawa-bawa kepada kepercayaan khurafat dan karut-marut atau mempercai sial sesuatu yang telah sabit larangan terhadapnya oleh ayat al-Quran dan hadis di atas tadi. Jika kita perlu menyapu sampah di malam hari kerana kebetulan ada sampah yang perlu dibersihkan, lakukanlah tanpa khuatir kepada pantang larang tersebut kerana tiada nas Syarak melarang perbuatan tersebut. Jika ditakdirkan kita mengalami kerugian selepas hari tersebut, wajiblah kita mengembalikan kerugian itu kepada qadha dan qadar Allah, bukan kerana kita telah melanggar pantang larang tersebut. 

Petua dan pantang larang yang jelas bercanggah dengan Syariat (al-Quran dan as-Sunnah) haram diamalkan. Dari segi kesan, jika ia menafikan aqidah yang wajib diiktiqadkan, mengamalkannya mungkin boleh membawa kepada rosaknya iman dan pelaku/pengamalnya boleh terjatuh dalam dosa syirik yang tidak diampunkan Allah, dan lebih jauh dari itu ia mungkin boleh murtad dari agama -sama ada secara sedar atau tanpa sedar-. Jika ia menyalahi amalan yang diredahi Allah, ia berdosa. Perbuatan dosa -sama ada besar atau kecil- wajib dijauhi oleh seorang muslim yang bertakwa kepada Allah.

Untuk mengenal pasti amalan orang terdahulu dalam budaya Melayu sama ada boleh diikuti atau tidak, ia mesti dibentangkan secara khusus setiap satunya di hadapan al-Quran dan as-Sunnah. Dalam ungkapan lain, ia wajib dirujuk kepada alim-ulamak sebelum mengamalkannya jika berlaku keraguan tentangnya.

Wallahu a’lam.