Koleksi Nota Ilmu Agama Islam

​Assalamualaikum wbt,Boleh al-Fadhil SS Mufti berikan penjelasan berkenaan hukum isbal bagi lelaki?

JAWAPAN:

Waalaikumussalam wbt,

Dalam perbahasan fiqh, perkataan “isbal” boleh merujuk kepada pelbagai maksud. Sebahagian ulama merujuk istilah ini kepada perbuatan melepaskan tangan sewaktu membaca al-Fatihah semasa solat. Inilah pegangan sebahagian ulama dalam mazhab Maliki yang berbeza dengan qaul jumhur yang meletakkan hukum sunat untuk bersedekap, yakni meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri.

Isbal juga, kebiasaannya, merujuk kepada perbuatan seseorang melabuhkan pakaiannya, seperti jubah atau seluar, melebihi paras buku lali ke bawah. Perbuatan ini tidak ada masalah bahkan digalakkan bagi kaum wanita bagi menutup aurat mereka, tetapi bagi kaum lelaki, ulama berbeza pandangan.

Daripada Abu Dzar RA bahawa Rasulullah SAW bersabda:

Maksudnya: Tiga jenis manusia yang Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka pada Hari Kiamat, tidak juga melihat (yakni, mengendahkan) kepada mereka, tidak menyucikan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih. Rasulullah SAW menyebut itu tiga kali. Lalu Abu Dzar berkata: Habislah dan rugilah mereka! Siapa mereka itu wahai Pesuruh Allah? Jawab Baginda: Orang yang melakukan isbal, dermawan (yang berbangga-bangga dengan pemberian), dan peniaga barang yang bersumpah palsu. (Hadis riwayat Muslim:106)

Sebahagian ulama menyebut sebab pengharaman isbal kerana perbuatan ini merujuk kepada suatu adat jahiliyyah bagi golongan bangsawan yang melabuhkan pakaian mereka meleret ke belakang sampaikan dijinjing oleh hamba-hamba mereka. Sifap ini melambangkan ketakburan dan menunjuk-nunjuk kekayaan. Sifat ini juga menafikan sifat tawaduk.

Ini bertepatan dengan firman Allah Taala:

Maksudnya: Dan janganlah engkau berjalan di bumi dengan berlagak sombong, kerana sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembusi bumi, dan engkau tidak akan dapat menyamai setinggi gunung-ganang. (Surah al-Isra’, 17:37)

Perlu diperhatikan di sini adakah larangan ini menunjukkan larangan bersifat ta`abbudi seperti ibadah khas atau mahdhah atau dalam perkara keduniaan yang terikat dengan illah. Syeikh Dr. Yusuf al-Qaradhawi menghuraikan perkara ini dalam kitabnya Bagaimana Kita Berinteraksi dengan Sunnah Nabawiyyah halaman 124-125, dengan menaqalkan hadis lain daripada Abdullah bin Umar R.anhuma bahawa Rasulullah SAW bersabda:

Maksudnya: “Barangsiapa yang melabuhkan  pakainnya secara sombong, maka Allah tidak akan melihat kepadanya pada Hari Kiamat.” Maka berkata Abu Bakar (R.A): “Sesungguhnya sebelah pakaianku meleret ke bawah jika aku tidak menjaganya.” Sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya engkau tidak melakukan demikian itu dengan kesombongan.” (Hadis riwayat al-Bukhari :3665).

Al-Qaradhawi juga menyebut tarjih yang dilakukan oleh Imam Nawawi dan Imam Ibn Hajar al-Asqalani bahawa perbuatan haramnya isbal itu dikaitkan dengan sifat (خيلاء) yakni menyombong.

Justeru, apabila dibaca nas-nas yang berkaitan, kesimpulan yang diperoleh ialah, jika kebiasaan seseorang, dan masyarakatnya, melakukan isbal tanpa bertujuan sombong dan kemegahan maka ini terkecuali daripada larangan dalam hadis tersebut.

Wallahua`lam

#SS Mufti Wilayah Persekutuan

Sumber: Al Kafili Al Fatawi

Advertisements
Aqidah

Petunjuk Menguatkan Iman

Tidak seorang pun dapat menjamin dirinya akan tetap terus berada dalam keimanan sehingga waktunya ia meninggal dunia dalam keadaan khusnul khatimah. Untuk itu kita perlu merawat bahkan senantiasa berusaha menguatkan keimanan kita. 
Kekuatan keteguhan iman (Tsabat) adalah sangat dituntut terhadap setiap muslim. Tema ini penting kerana beberapa alasan yang perlu mendapat perhatian serius dikalangan umat islam dekad ini iaitu ;

Pertama
, pada zaman ini kaum muslimin hidup di tengah berbagai macam fitnah, syahwat dan syubhat dan hal-hal itu sangat berpotensi menggugat iman. Maka kekuatan iman merupakan keperluan mutlak, bahkan lebih diperlukan dibandingkan pada masa generasi sahabat, kerana kerosakan manusia di segala bidang telah menjadi fenomena umum.

Kedua
, banyak terjadi pemurtadan dan konversi (perpindahan) agama. Jika pada awal kemerdekaan jumlah umat Islam di Indonesia mencapai 90 % maka saat ini jumlah itu telah berkurang hampir 5%. Ini tentu menimbulkan kekhawatiran mendalam. Untuk mengatasinya diperlukan jalan keluar, sehingga setiap muslim tetap memiliki kekuatan iman.

Ketiga
, pembahasan masalah tsabat berkait erat dengan masalah hati. Padahal Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Dinamakan hati karena ia (selalu) berbolak-balik. Perumpamaan hati itu bagaikan bulu yang ada di pucuk pohon yang diombang-ambingkan oleh angin.” (HR. Ahmad, Shahihul Jami’ no. 2361).

Maka, mengukuhkan hati yang senantiasa berbolak-balik itu dibutuhkan usaha keras, agar hati tetap teguh dalam keimanan.
Dan sungguh Allah Maha Rahman dan Rahim kepada hambaNya. Melalui Al Qur’an dan Sunnah RasulNya Ia memberikan petunjuk bagaimana cara mencapai tsabat. 

Berikut ini penjelasan 15 petunjuk berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah untuk memelihara kekuatan dan keteguhan iman kita.



Akrab dengan Al Qur’an

Al Qur’an merupakan petunjuk utama mencapai tsabat. Al Qur’an adalah tali penghubung yang amat kokoh antara hamba dengan Rabbnya. Siapa akrab dan berpegang teguh dengan Al Qur’an niscaya Allah memeliharanya; siapa mengikuti Al Qur’an, niscaya Allah menyelamatkannya; dan siapa yang mendakwahkan Al Qur’an, niscaya Allah menunjukinya ke jalan yang lurus. Dalam hal ini Allah berfirman:

“Orang-orang kafir berkata, mengapa Al Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja? Demikianlah supaya Kami teguhkan hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar).” (Al Furqan: 32-33)

Beberapa alasan mengapa Al Qur’an dijadikan sebagai sumber utama mencapai tsabat adalah: 

Pertama
, Al Qur’an menanamkan keimanan dan mensucikan jiwa seseorang, karena melalui Al Qur’an, hubungan kepada Allah menjadi sangat dekat. 

Kedua
, ayat-ayat Al Qur’an diturunkan sebagai penentram hati, menjadi penyejuk dan penyelamat hati orang beriman sekaligus benteng dari hempasan berbagai badai fitnah. 

Ketiga
, Al Qur’an menunjukkan konsepsi serta nilai-nilai yang dijamin kebenarannya. Karena itu, seorang mukmin akan menjadikan Al Qur’an sebagai ukuran kebenaran. 

Keempat
, Al Qur’an menjawab berbagai tuduhan orang-orang kafir, munafik dan musuh Islam lainnya. Seperti ketika orang-orang musyrik berkata, Muhammad ditinggalkan Rabbnya, maka turunlah ayat:
“Rabbmu tidaklah meninggalkan kamu dan tidak (pula) benci kepadamu.” (Ad Dhuha: 3) / (Syarh Nawawi, 12/156). 

Orang yang akrab dengan Al Qur’an akan menyandarkan semua perihalnya kepada Al Qur’an dan tidak kepada perkataan manusia. Maka, betapa agung sekiranya penuntut ilmu dalam segala disiplinnya menjadikan Al Qur’an berikut tafsirnya sebagai obyek utama kegiatannya menuntut ilmu.Iltizam (komitmen) terhadap syari’at Allah

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akherat. Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim. Dan Allah berbuat apa saja yang Ia kehendaki.” (Ibrahim: 27)

“Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih meneguhkan (hati mereka di atas kebenaran).” (An Nisa’: 66)

Karena itu, menjelaskan surat Ibrahim di atas Qatadah berkata: “Adapun dalam kehidupan di dunia, Allah meneguhkan orang-orang beriman dengan kebaikan dan amal shalih sedang yang dimaksud dengan kehidupan akherat adalah alam kubur.” (Ibnu Katsir: IV/421)

Maka jelas sekali, sangat mustahil orang-orang yang malas berbuat kebaikan dan amal shaleh diharapkan memiliki keteguhan iman. Karena itu, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam senantiasa melakukan amal shaleh secara kontinyu, sekalipun amalan itu sedikit, demikian pula halnya dengan para sahabat. 

Komitmen untuk senantiasa menjalankan syariat Islam akan membentuk kepribadian yang tangguh, dan iman pun menjadi teguh.


Mempelajari Kisah Para Nabi

Mempelajari kisah dan sejarah itu penting. Apatah lagi sejarah para Nabi. Ia bahkan bisa menguatkan iman seseorang. Secara khusus Allah menyinggung masalah ini dalam firman-Nya:
“Dan Kami ceritakan kepadamu kisah-kisah para rasul agar dengannya Kami teguhkan hatimu dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran, pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Hud: 120)

Sebagai contoh, marilah kita renungkan kisah Ibrahim alaihis salam yang diberitakan dalam Al Qur’an:

“Mereka berkata, bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak. Kami berfirman, hai api menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim. Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim maka Kami jadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.” (Al Anbiya’: 68-70)

Bukankah hati kita akan bergetar saat merenungi kronologi pembakaran nabi Ibrahim sehingga ia selamat atas izin Allah? Dan bukankah dengan demikian akan membuahkan keteguhan iman kita? Lalu, kisah nabi Musa alaihis salam yang tegar menghadapi kezhaliman Fir’aun demi menegakkan agama Allah. 

Bukankah kisah itu mengingatkan kekerdilan jiwa kita dibanding dengan nabi Musa?
Tak sedikit umat Islam sudah merasa tak punya jalan karena kondisi ekonomi yang kurang menguntungkan misalnya, sehingga mau saja saat diajak kolusi dan berbagai praktek syubhat lain oleh koleganya. Lalu mereka mencari-cari alasan mengabsahkan tindakannya yang keliru. 
Dan bukankah karena takut gertakan penguasa yang tiranik lalu banyak di antara umat Islam (termasuk ulamanya) yang menjadi tuli, buta dan bisu sehingga tidak melakukan amar ma’ruf nahi mungkar? Bahkan sebaliknya malah bergabung dan bersekongkol serta melegitimasi status quo (menganggap yang ada sudah baik dan tak perlu diubah).
Bukankah dengan mempelajari kisah-kisah Nabi yang penuh dengan perjuangan menegakkan dan meneguhkan iman itu kita menjadi malu kepada diri sendiri dan kepada Allah? Kita mengharap Surga tetapi banyak hal dari perilaku kita yang menjauhinya. Mudah-mudahan Allah menunjuki kita ke jalan yang diridhaiNya.


Berdo’a

Di antara sifat hamba-hamba Allah yang beriman adalah mereka memohon kepada Allah agar diberi keteguhan iman, seperti do’a yang tertulis dalam firmanNya:
“Ya Rabb, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau beri petunjuk kepada kami.” (Ali Imran: 8)

“Ya Rabb kami, berilah kesabaran atas diri kami dan teguhkanlah pendirian kami serta tolonglah kami dari orang-orang kafir.” (Al Baqarah: 250)

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
“Sesungguhnya seluruh hati Bani Adam terdapat di antara dua jari dari jemari Ar Rahman (Allah), bagaikan satu hati yang dapat Dia palingkan ke mana saja Dia kehendaki.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Agar hati tetap teguh maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam banyak memanjatkan do’a berikut ini terutama pada waktu duduk takhiyat akhir dalam shalat.
“Wahai (Allah) yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada din-Mu.” (HR. Turmudzi)

Banyak lagi do’a-do’a lain tuntunan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam agar kita mendapat keteguhan iman. Mudah-mudahan kita senantiasa tergerak hati untuk berdo’a utamanya agar iman kita diteguhkan saat menghadapi berbagai ujian kehidupan.


Dzikir kepada Allah

Dzikir kepada Allah merupakan amalan yang paling ampuh untuk mencapai tsabat. Karena pentingnya amalan dzikir maka Allah memadukan antara dzikir dan jihad, sebagaimana tersebut dalam firmanNya:

“Hai orang-orang yang beriman, bila kamu memerangi pasukan (musuh) maka berteguh-hatilah kamu dan dzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya.” (Al Anfal: 45)

Dalam ayat tersebut, Allah menjadikan dzikrullah sebagai amalan yang amat baik untuk mencapai tsabat dalam jihad. Ingatlah Yusuf Alaihis Salam! 
Dengan apa ia memohon bantuan untuk mencapai tsabat ketika menghadapi fitnah rayuan seorang wanita cantik dan berkedudukan tinggi? Bukankah dia berlindung dengan kalimat ma’adzallah (aku berlindung kepada Allah), lantas gejolak syahwatnya reda?
Demikianlah pengaruh dzikrullah dalam memberikan keteguhan iman kepada orang-orang yang beriman.


Menempuh Jalan Lurus

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia dan jangan mengikuti jalan-jalan (lain) sehingga menceraiberaikan kamu dari jalanNya.” (Al An’am: 153)

Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mensinyalir bahwa umatnya bakal terpecah-belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk Neraka kecuali hanya satu golongan yang selamat (HR. Ahmad, hasan)

Dari sini kita mengetahui, tidak setiap orang yang mengaku muslim mesti berada di jalan yang benar. Rentang waktu 14 abad dari datangnya Islam cukup banyak membuat terkotak-kotaknya pemahaman keagamaan. 
Lalu, jalan manakah yang selamat dan benar itu? 

Dan, pemahaman siapakah yang mesti kita ikuti dalam praktek keberaga-maan kita? Berdasarkan banyak keterangan ayat dan hadits, jalan yang benar dan selamat itu adalah jalan Allah dan RasulNya. 

Sedangkan pemahaman agama yang autentik kebenarannya adalah pemahaman berdasarkan keterangan Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada para sahabatnya. (HR. Turmudzi, hasan).

Itulah yang mesti kita ikuti, tidak penafsiran-penafsiran agama berdasarkan akal manusia yang tingkat kedalaman dan kecerdasannya majemuk dan terbatas. Tradisi pemahaman itu selanjutnya dirawat oleh para tabi’in dan para imam shalihin. 

Paham keagamaan inilah yang dalam terminologi (istilah) Islam selanjutnya dikenal dengan paham Ahlus Sunnah wal Jamaah. Atau sebagian menyebutnya dengan pemahaman para salafus shalih.

Orang yang telah mengikuti paham Ahlus Sunnah wal Jamaah akan tegar dalam menghadapi berbagai keanekaragaman paham, sebab mereka telah yakin akan kebenaran yang diikutinya. Berbeda dengan orang yang berada di luar Ahlus Sunnah wal Jamaah, mereka akan senantiasa bingung dan ragu.

Berpindah dari suatu lingkungan sesat ke lingkungan bid’ah, dari filsafat ke ilmu kalam, dari mu’tazilah ke ahli tahrif, dari ahli ta’wil ke murji’ah, dari thariqat yang satu ke thariqat yang lain dan seterusnya. Di sinilah pentingnya kita berpegang teguh dengan manhaj (jalan) yang benar sehingga iman kita akan tetap kuat dalam situasi apapun.


Menjalani Tarbiyah

Tarbiyah (pendidikan) yang semestinya dilalui oleh setiap muslim cukup banyak. Paling tidak ada empat macam :

Tarbiyah Imaniyah
, yaitu pendidikan untuk menghidupkan hati agar memiliki rasa khauf (takut), raja’ (pengharapan) dan mahabbah (kecintaan) kepada Allah serta untuk menghilangkan kekeringan hati yang disebabkan oleh jauhnya dari Al Qur’an dan Sunnah.

Tarbiyah Ilmiyah, yaitu pendidikan keilmuan berdasarkan dalil yang benar dan menghindari taqlid buta yang tercela.

Tarbiyah Wa’iyah, yaitu pendidikan untuk mempelajari siasat orang-orang jahat, langkah dan strategi musuh Islam serta fakta dari berbagai peristiwa yang terjadi berdasarkan ilmu dan pemahaman yang benar.

Tarbiyah Mutadarrijah, yaitu pendidikan bertahap, yang membimbing seorang muslim setingkat demi setingkat menuju kesempurnaannya, dengan program dan perencanaan yang matang. Bukan tarbiyah yang dilakukan dengan terburu-buru dan asal jalan.

Itulah beberapa tarbiyah yang diberikan Rasul kepada para sahabatnya. Berbagai tarbiyah itu menjadikan para sahabat memiliki iman baja, bahkan membentuk mereka menjadi generasi terbaik sepanjang masa.


Meyakini Jalan yang Ditempuh

Tak dipungkiri bahwa seorang muslim yang bertambah keyakinannya terhadap jalan yang ditempuh yaitu Ahlus Sunnah wal Jamaah maka bertambah pula tsabat (keteguhan iman) nya. Adapun di antara usaha yang dapat kita lakukan untuk mencapai keyakinan kokoh terhadap jalan hidup yang kita tempuh adalah:

Pertama, kita harus yakin bahwa jalan lurus yang kita tempuh itu adalah jalan para nabi, shiddiqien, ulama, syuhada dan orang-orang shalih.

Kedua
, kita harus merasa sebagai orang-orang terpilih karena kebenaran yang kita pegang, sebagaimana firman Allah: “Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hambaNya yang Ia pilih.” (QS. 27: 59)

Bagaimana perasaan kita seandainya Allah menciptakan kita sebagai benda mati, binatang, orang kafir, penyeru bid’ah, orang fasik, orang Islam yang tidak mau berdakwah atau da’i yang sesat? Mudah-mudahan kita berada dalam keyakinan yang benar yakni sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah yang sesungguhnya.


Berdakwah

Jika tidak digerakkan, jiwa seseorang tentu akan rusak. Untuk menggerakkan jiwa maka perlu dicarikan medan yang tepat. Di antara medan pergerakan yang paling agung adalah berdakwah. Dan berdakwah merupakan tugas para rasul untuk membebaskan manusia dari adzab Allah.
Maka tidak benar jika dikatakan, fulan itu tidak ada perubahan. Jiwa manusia, bila tidak disibukkan oleh ketaatan maka dapat dipastikan akan disibukkan oleh kemaksiatan. Sebab, iman itu bisa bertambah dan berkurang.
Jika seorang da’i menghadapi berbagai tantangan dari ahlul bathil dalam perjalanan dakwahnya, tetapi ia tetap terus berdakwah maka Allah akan semakin menambah dan mengokohkan keimanannya.



Dekat dengan Ulama

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Di antara manusia ada orang-orang yang menjadi kunci kebaikan dan penutup kejahatan.” (HR. Ibnu Majah, no. 237, hasan)

Senantiasa bergaul dengan ulama akan semakin menguatkan iman seseorang. Tercatat dalam sejarah bahwa berbagai fitnah telah terjadi dan menimpa kaum muslimin, lalu Allah meneguhkan iman kaum muslimin melalui ulama. Di antaranya seperti diutarakan Ali bin Al Madini Rahimahullah: “Di hari riddah (pemurtadan) Allah telah memuliakan din ini dengan Abu Bakar dan di hari mihnah (ujian) dengan Imam Ahmad.” Bila mengalami kegundahan dan problem yang dahsyat Ibnul Qayyim mendatangi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah untuk mendengarkan berbagai nasehatnya. Sertamerta kegundahannya pun hilang berganti dengan kelapangan dan keteguhan iman ( Al Wabilush Shaib, hal. 97).



Meyakini Pertolongan Allah

Mungkin pernah terjadi, seseorang tertimpa musibah dan meminta pertolongan Allah, tetapi pertolongan yang ditunggu-tunggu itu tidak kunjung datang, bahkan yang dialaminya hanya bencana dan ujian. Dalam keadaan seperti ini manusia banyak membutuhkan tsabat agar tidak berputus asa. Allah berfirman:
“Dan berapa banyak nabi yang berperang yang diikuti oleh sejumlah besar pengikutnya yang bertaqwa, mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak lesu dan tidak pula menyerah (kepada musuh). Dan Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada do’a mereka selain ucapan, Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami. Tetapkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akherat.” (Ali Imran: 146-148)

Mengetahui Hakekat Kebatilan

Allah berfirman:
“Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir yang bergerak dalam negeri .” (Ali Imran: 196)

“Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al Qur’an (supaya jelas jalan orang-orang shaleh) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berbuat jahat (musuh-musuh Islam).” (Al An’am: 55)

“Dan Katakanlah, yang benar telah datang dan yang batil telah sirna, sesungguhnya yang batil itu pastilah lenyap.” (Al Isra’: 81)

Berbagai keterangan ayat di atas sungguh menentramkan hati setiap orang beriman. Mengetahui bahwa kebatilan akan sirna dan kebenaran akan menang akan mengukuhkan seseorang untuk tetap teguh berada dalam keimanannya.


Memiliki Akhlak Pendukung Tsabat

Akhlak pendukung tsabat yang utama adalah sabar. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: “Tidak ada suatu pemberian yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Tanpa kesabaran iman yang kita miliki akan mudah terombang-ambingkan oleh berbagai musibah dan ujian. Karena itu, sabar termasuk senjata utama mencapai tsabat.


Nasehat Orang Shalih

Nasehat para shalihin sungguh amat penting artinya bagi keteguhan iman. Karena itu, dalam segala tindakan yang akan kita lakukan hendaklah kita sering-sering meminta nasehat mereka. Kita perlu meminta nasehat orang-orang shalih saat mengalami berbagai ujian, saat diberi jabatan, saat mendapat rezki yang banyak dan lain-lain.

Bahkan seorang sekaliber Imam Ahmad pun, beliau masih perlu mendapat nasehat saat menghadapi ujian berat oleh intimidasi penguasa yang tiranik. Bagaimana pula halnya dengan kita?



Merenungi Nikmatnya Surga

Surga adalah tempat yang penuh dengan kenikmatan, kegembiraan dan suka-cita. Ke sanalah tujuan pengembaraan kaum muslimin. Orang yang meyakini adanya pahala dan Surga niscaya akan mudah menghadapi berbagai kesulitan. Mudah pula baginya untuk tetap tsabat dalam keteguhan dan kekuatan imannya.
Dalam meneguhkan iman para sahabat, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sering mengingatkan mereka dengan kenikmatan Surga. Ketika melewati Yasir, istri dan anaknya Ammar yang sedang disiksa oleh kaum musyrikin beliau mengatakan: “Bersabarlah wahai keluarga Yasir, tempat kalian nanti adalah Surga”. (HR. Al Hakim/III/383, hasan shahih)
Mudah-mudahan kita bisa merawat dan terus-menerus meneguhkan keimanan kita sehingga Allah menjadikan kita khusnul khatimah. Amin​
Sumber: Sunnah

Koleksi Nota Ilmu Agama Islam

Haram Main Forex Online

​GEORGE TOWN: Jabatan Mufti Perlis mengeluarkan fatwa melarang perdagangan dalam pertukaran mata wang asing atau forex dalam talian.

“Perdagangan forex dalam talian perlu dihentikan segera.

“Kami mendapati platform forex, sama ada di dalam atau luar negara adalah haram,” kata Mufti Perlis, Dr Mohd Asri Zainul Abidin hari ini.

Beliau berkata, secara amnya, pertukaran mata wang asing membabitkan wang tunai dibenarkan kerana ia adalah pertukaran satu-kepada-satu dan serta-merta.

Bagaimanapun, katanya, spekulasi dan perdagangan forex dalam talian adalah haram berdasarkan beberapa sebab.

Beliau berkata, sebab utama ialah kekurangan tunai sebenar melalui “hakiki atau hukmi”, selain wujud unsur riba yang dimanfaatkan melalui kemudahan seperti pinjaman tunai ditawarkan platform forex.

“Terdapat juga unsur maisir (judi) yang mendedahkan pedagang kepada peluang keuntungan atau risiko kerugian kerana bergantung kepada spekulasi pergerakan nilai mata wang di luar kawalan, usaha dan pengaruh pihak yang berurus niaga.

“Unsur gharar (ketidakpastian) juga wujud bagi penyedia platform dan kekurangan undang-undang memantau perdagangan serta kesahihan transaksi,” katanya.

Difahamkan, fatwa itu akan dibentangkan pada sidang Dewan Undangan Negeri akan datang.

Kempen Semak Hadis · Koleksi Nota Ilmu Agama Islam

Silsilah Hadis Dhaif (Lemah) dan Maudhuk (Palsu)

​Hadith No. 5

“Tidaklah seorang hamba meninggalkan sesuatu untuk Allah dan ia tidak meninggalkannya kecuali kerana Allah melainkan Allah menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik baginya dalam urusan agama serta keduniaannya.”

Hadith ini maudhu’. Saya sendiri pernah mendengar kata-kata tersebut diutarakan oleh seorang tokoh yang sedang mengisi acara di radio Damascus pada bulan Ramadhan.

Abu Naim telah mengutarakannya dalam Huliyatul-Auliya II/196, kemudian ia berkata, “Itu hadith gharib (asing).”

Menurut saya, sanadnya maudhu’ (palsu) sebab sesudah az-Zuhri tidak disebutkannya sama sekali dalam kitab-kitab hadith selain Abdullah bin Sa’ad ar-Raqi dan dia dikenal sebagai pendusta. Ad-Daraquthni menyatakannya sebagai pendusta seraya berkata, “Dia adalah pemalsu hadith.”


Hadith No. 6

“Hindarilah debu, kerana darinyalah timbulnya penyakit asma.”

Saya tidak mengetahui sumber hadith yang disebutkan oleh Ibnu Atsir dalam kitab an-Nihayah pada maddah “nasama” tersebut seraya mengatakannya sebagai hadith. Namun, saya mendapati ia tidak menyebutkan sumber aslinya secara marfu’ (sampai sanadnya kepada Rasulullah s.a.w)

Ibnu Saad dalam Thabaqat al-Kubra VIII/198 meriwayatkan bahawa Abdullah bin Saleh al-Mashri berkata, dari Harmalah bin Imran apa yang diceritakan kepada mereka oleh Ibnu Sindir pengikut (budak) Rasulullah s.a.w.. Ia berkata, “Suatu saat datanglah Amr Ibnu Alsh sedang Ibnu Sindir telah bersama sekelompok orang.

Tiba-tiba orang yang bergerombol bermain-main menebarkan debu ke udara. Amr kemudian menghulurkan imamah (serban)-nya seraya menutupi hidungnya dan berkata ‘Hati-hatilah kalian terhadap debu kerana itu merupakan sesuatu yang paling mudah masuknya dan paling sulit keluarnya. Bila debu telah masuk menembusi paru-paru maka timbullah penyakit asma.”
Jadi di samping riwayat tersebut mauqud (terhenti sampai kepada sahabat) juga sanadnya tidak sahih.

Alasannya:

1. Ibnu Saad hanya menyandarkan riwayat tersebut tanpa menyebutkan kaitan antara dia dengan Abdullah bin Saleh.

2. Ibnu Saleh itu lemah. Hal ini dinyatakan oleh Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah.

3. Kaitan antara Harmalah dengan Ibnu Sindir tidak dijelaskan, kerana itu dikategorikan sebagai Majhul.



Hadith No. 7

“Dua hal janganlah Anda dekati. Menyekutukan Allah dan mengganggu (merugikan) orang lain.”

Riwayat tersebut tidak ada sumbernya. Memang ia sangat masyhur dan menjadi perbicaraan dengan lafazh yang demikian. Namun saya tidak mendapatinya dalam kitab-kitab sunnah.

Barangkali riwayat itu berasal dari kitab Ihya Ulumuddin karangan Imam al-Ghazali II/185, yang mengatakan bahawa Rasulullah s.a.w bersabda:

“Dua hal yang tidak ada sesuatu kejahatan yang melebihinya, iaitu menyekutukan Allah dan memudharatkan hamba-hamba Allah. Dan dua hal yang tidak ada kebaikan melebihinya iaitu iman kepada Allah dan memberi manfaat kepada hamba Allah.”

Hadith tersebut tidak ada dan tidak diketahui sumbernya. Al-Hafidz al-Iraqi dalam merincikan riwayat tersebut mengatakan, “Riwayat tadi telah dipaparkan oleh penulis kitab al-Firdaus dari hadith Ali sedang anaknya tidak menyandarkannya dalam musnadnya. Kerana itu, as-Subuki ;menyatakan bahawa apa yang tercantum dalam Ihya riwayatnya tidak bersajnad.

– Silsilatul ahaadith ad-Dhaifah wal Maudhu’ah oleh Syeikh Nasiruddin al-Albani

Koleksi Nota Ilmu Agama Islam

Hukum Pertandingan Memancing 

​Ustaz sudah dijelaskan bahawa sebarang pertandingan yang menggunakan wang penyertaan untuk hadiah adalah berjudi dan haram, antaranya adalah pertandingan memancing. Ditempat saya terdapat sebuah kolam ikan yang menjalankan perniagaan dimana setiap pemancing dikenakan bayaran sebanyak RM20.00 dan ianya seperti kebanyakan kolam lain. Tetapi pemilik kolam ini akan memberi hadiah kepada pemancing yang memancing ikan terberat dan teringan iaitu beberapa peratus dari kutipan yang diperolehi pada hari tersebut. Keadaan ini adalah bagi setiap hari dan tidak dihadkan pada hari tertentu. Peratus hadiah juga tetap dan tidak berubah mengikut hari atau keramaian. Waktu memancing hanya di sebelah malam iaitu pada pukul 8.00pm – 12.00pm dan ini dapat memastikan semua yang memancing berhak ke atas hadiah tersebut. Ikan yang dapat dipanjing adalah milik pemancing. Operasi pemberian hadiah ini tidaklah saya ketahui samada sejak kolam ini dibuka atau selepas menghadapi masalah kehadiran pemancing kerana sejak saya tahu ujudnya kolam ini operasinya sedemikian rupa. Soalannya :

1. Adakah hasil hadiah ini termasuk dalam kategori judi?

2. Adakah dengan niat saya masuk untuk dapatkan hadiah tersebut dengan memilih hari orang ramai memancing sebagai judi? Jazakallah dan maaf atas panjangnye cerita sebab tak tau nak ringkaskan.
Jawapan;

Bayaran RM20 itu yang menjadi persoalan;

1. Jika tujuannya sebagai bayaran sewa tempat dan perkhidmatan, insya Allah ia adalah harus. Harus seseorang menyewakan rumah, tanah dan benda-benda lain miliknya untuk orang lain bagi tujuan yang diharuskan Syarak seperti untuk kediaman, pejabat, kilang, tempat riadhah dan reakresi dan sebagainya.

2. Jika RM20 itu adalah sebagai bayaran kepada ikan yang mungkin diperolehi pengail dari kolamnya, maka muamalat tersebut terbabit dengan gharar yang diharamkan Syarak. Menurut hadis dari Abu Hurairah r.a.; “Rasulullah s.a.w. menegah daripada jualan secara gharar” (HR Imam Ahmad dan Muslim). Gharar ialah menjalankan urus-niaga dalam kesamaran iaitu tanpa kepastian barang/produk yang terlibat dan harganya sama ada oleh penjual atau pembeli. Dalam kes di atas, orang yang membayar RM 20 itu belum pasti jumlah ikan yang bakal diperolehinya; banyak atau sikit atau mungkin juga tidak dapat langsung. Menurut Imam Ibnu Qaiyim; “Gharar ialah suatu yang tidak dapat dipastikan sama ada ia wujud atau tidak. Maka ditegah jualan gharar (yakni jualan suatu yang tidak pasti) kerana ia tergolong dalam jenis qimar (pertaruhan) yang merupakan perjudian…di mana terjadinya qimar (pertaruhan) itu kerana satu pihak sudah pasti akan memperolehi harta tukarannya, sementara satu pihak lagi belum pasti sama ada akan memperolehi harta tukarannya atau tidak. (Lihat; Mu’jam Al-Mustalahat Al-Iqtisadiyyah Fi Lughatil Fuqahak, Dr. Nazih Hamad)

3. Jika RM 20 itu tujuannya ialah untuk hadiah, yakni diambil darinya (keseluruhan atau sebahagiannya) untuk pemberian hadiah kepada pemenang, maka ia adalah pertaruhan atau perjudian yang dilarang Syarak sebagaimana dijelaskan sebelum ini.
By Ustaz Ahmad Adnan Fadzil

Koleksi Nota Ilmu Agama Islam

PERHIASAN; BILA WAJIB DIKELUARKAN ZAKAT

​Ustaz, adakah barang emas yang saya pakai dikenakan zakat? Bagaimana cara mengira zakatnya?
Jawapan;

Menurut jumhur ulamak (mazhab Maliki, Syafiie dan Hanbali); emas yang dipakai wanita sebagai perhiasan -walaupun dipakai sekali dalam setahun- tidak dikenakan zakat, kecuali jika berlebihan barulah dikenakan zakat. Maksud berlebihan ialah yang melebihi kadar yang biasa dipakai oleh wanita-wanita setempat (yakni kadar uruf setempat), iaitu yang diputuskan oleh fatwa negeri-negeri seperti berikut;

1. Selangor; 800 gram

2. Wilayah Pesekutuan; 150 gram emas

3. Johor; 850 gram emas

4. Pulau Pinang; 165 gram

5. Sabah; 152 gram.

6. Negeri Sembilan; 200 gram

7. Kedah; 85 gram

8. Perak; 500 gram

9. Trengganu; 850 gram

10. Melaka; 180 gram

11. Kelantan; tiada ‘uruf

12. Pahang; 500 gram

13. Perlis; tiada penetapan ‘uruf (kerana fatwa negeri Perlis memakai pandangan Imam Abu Hanifah yang mewajibkan zakat ke atas semua emas yang dimiliki termasuk perhiasan).

Yang perlu dikira dalam penentuan kadar uruf itu ialah emasnya sahaja, tidak termasuk batu permatanya. Maka jika perhiasan emas yang dimiliki dan dipakai melebihi kadar di atas (mengikut negeri masing-masing) wajiblah dikeluarkan zakat ke atas kadar berlebihan bila cukup tempoh tahunannya. Kadar yang wajib dikeluarkan ialah; 2.5%.

Contohnya; bagi wanita yang tinggal di Wilayah Persekutuan, katalah dia memiliki emas yang dipakai yang berat keseluruhan; 200 gram, maka perkiraan zakatnya ialah;

* 250 gram emas (berat emas yang dipakai) – 150 gram emas (iaitu kadar pemakaian uruf) = 100 gram (perhiasan yang masuk dalam hitungan zakat).

Kadar zakat dikenakan; 100 gram x harga semasa emas x 2.5 %.

Katakanlah; harga semasa emas bagi 1 gram ialah RM 150, maka kadar zakatnya ialah;

100 gram emas x RM 150 x 2.5% = RM 375.

Adapun perhiasan emas yang tidak dipakai dalam setahun -walaupun sekali- ia mengambil hukum emas simpanan dan wajib dibayar zakat iaitu dengan dihitung bersama emas-emas yang lain jika ada (dinar emas, jongkong emas, emas perhiasan yang berlebihan tadi dan sebagainya) dan aset kewangan yang lain (saham, wang simpanan dan sebagainya) dan dikeluarkan zakatnya 2/5% jika nilai keseluruhannya menyamai atau melebihi 85 gram emas (iaitu kadar nisab zakat emas).

Huraian di atas adalah mengikut pandangan jumhur mazhab. Adapun menurut mazhab Hanafi, keseluruhan emas dikenakan zakat termasuk perhiasan sama ada perhiasan yang dipakai atau disimpan, yang berada dalam kadar ‘uruf tadi atau yang berlebihan. Untuk membaca lebih lanjut perbahasan ulamak tentangnya, sila baca jawapan saya sebelum ini; (PERHIASAN; BILA WAJIB DIKELUARKAN ZAKAT?).
Rujukan;

1. Zakat Selangor (http://www.zakatselangor.com.my/jenis-jenis-zakat/zakat-harta/zakat-emas-perak/).
2. Wilayah Persekutuan (https://www.zakat.com.my/info-zakat/jenis-zakat/zakat-emas)

3. Zakat Johor (http://www.maij.gov.my/?page_id=110).

4. Zakat Pulau Pinang (http://www.zakatpenang.com/zpp/index.php/2013-06-30-10-54-31/jenis-zakat/zakat-emas-perak).

5. Zakat Sabah (http://www.zakat.sabah.gov.my/index.php?option=com_content&view=article&id=30&Itemid=157&lang=en).

6. Zakat Negeri Sembilan (http://www.zakatns.com.my/v5/info-zakat/jenis-zakat/zakat-emas-dan-perak).

7. Zakat Kedah (http://www.zakatkedah.com/services/zakat-emas/).

8. Zakat Perak (http://www.maiamp.gov.my/maiamp2/index.php/zakat/kalkulator/kalkulator-zakat-emas-perak.html).

9. Zakat Terengganu (http://www.maidam.gov.my/index.php/index.php/perkhidmatan-kami/pungutan-zakat/384-zakat-emas).

10. Zakat Melaka (http://www.izakat.com/index.php?option=com_content&view=article&id=7&Itemid=12&lang=bm).

11. Fatwa zakat emas Perlis (http://mufti.perlis.gov.my/index.php?option=com_content&view=article&id=66:muamalat-nilai-emas-yang-boleh-dihukum-pakaian&catid=34:fatwa-muamalat&Itemid=92